Di Balik Layar Pikiran: Gagasan yang Mengalir
Temukan catatan dan refleksi yang tersaji dalam setiap tulisan, membawa Anda menyelami ide dan inspirasi di balik pikiran penulis.
5/8/20242 min read


Nadi Sape Kerrab
Saya gemetar melihat papan klasemen itu. Perasaan saya campur aduk. Madura United berada di bibir jurang. Degradasi.
Saya bukan orang Madura. Bahkan (mungkin) tak ada setetes pun darah Madura mengalir dalam tubuh saya. Tapi ada secuil ruang di hati ini untuk mencintai Madura. Dan Madura United adalah pengejahwantaan rasa cinta itu.
Anda pasti tahu rasanya. Ngeri. Di klasemen itu, hari ini Madura United hanya satu setrip dari degradasi. Jika itu terjadi, anpa kehadiran loreng merah-putih, ISL bakal seperti masakan tanpa garam. Hambar.
Ini bukan sekadar urusan bola itu bundar. Meminjam kacamata Émile Durkheim, sebuah entitas olahraga sering kali bermutasi menjadi totem. Simbol suci komunitas. Bagi masyarakat Madura, klub ini adalah perekat sosial utama (social cohesion).
Orang Madura itu tangguh. Tersebar dari ujung Aceh hingga pelosok Papua. Berdagang, menjaga warung kelontong 24 jam, membangun konstruksi, hingga membelah lautan. Hidup mereka keras. Keringat mereka asin. Di tengah kerasnya nasib perantauan itu, apa yang mengikat identitas komunal mereka sebagai Tretan Dhibik? Ya, Madura United.
Klub ini adalah etalase eksistensi. Turunnya Madura United ke kasta kedua bukan sekadar persoalan turun kasta kompetisi. Secara sosiologis, itu adalah collective disgrace (aib kolektif). Runtuhnya simbol kebanggaan sebuah etnis yang sangat menjunjung tinggi prinsip ajhâghâ kahormatan (menjaga harga diri).
Di sinilah psikologi masyarakat Madura sedang diuji. Anda sudah tahu pepatah kuno mereka: Bental omba' sapo' angen. Berbantal ombak, berselimut angin.
Psikolog Angela Duckworth menyebut karakter ini sebagai Grit. Ketabahan. Sebuah dorongan pantang menyerah yang merupakan kombinasi dari passion and perseverance. Orang Madura punya grit alami. Ia dibentuk oleh gersangnya tanah kapur dan ganasnya ombak lautan. Karakter aslinya: semakin ditekan, semakin keras melawan.
Api itulah yang tak boleh redup dari Laskar Sape Kerrab saat ini.
Dalam kajian teori olahraga kita mengenal Psychological Momentum. Rantai kekalahan bertubi-tubi sebenarnya tidak memukul fisik, melainkan menghancurkan self-efficacy (keyakinan diri) para pemain. Taktik secanggih apa pun dari pelatih terhebat pun akan ambyar di lapangan jika kaki pemain sudah gemetar duluan karena takut salah umpan.
Madura United tidak hanya butuh transisi formasi 4-3-3 atau 3-5-2. Madura United butuh reinkarnasi mental carok di atas lapangan.
Tentu saja bukan carok berdarah dengan celurit. Tapi carok dalam definisi psikologis: perlawanan menjaga harga diri, habis-habisan. Nggetih. Berlari sampai paru-paru terasa mau pecah. Menekel bola seolah itu adalah pertarungan hidup atau mati.
Suporter tidak boleh apatis atau sekadar nyinyir di media sosial. Tribun penonton adalah ruang transfer energi. Saat ribuan pendukung berteriak, secara biologis, hormon kortisol (pemicu stres) lawan akan naik, sementara hormon adrenalin pemain Madura United akan meledak tak terkendali. Dukungan orang Madura di mana pun harus total.
Malam ini, Madura United akan main di Lampung, kandang Bhayangkara Presisi FC. Seri adalah maut dan kekalahan adalah terompet sangkakala degradasi. Orang-orang Madura yang ada di Lampung dan sekitarmya wajib memberi dukungan kepada kebanggaan kita ini. Menang hukum wajib bagi Laskar Sape Kerrab.
Sisa laga musim ini adalah final. Tidak ada negosiasi. Tidak ada kata nanti.
Pemain harus menatap cermin lama-lama di ruang ganti. Jersey loreng merah-putih dengan logo kepala sapi di dada mereka itu teramat berat. Ada jutaan doa orang Madura yang digantungkan di sana.
Degradasi adalah kata haram. Bangkitlah, Sape Kerrab. Seruduk siapa saja yang menghalangi. Kalian terlalu besar untuk jatuh! (*)