Kontroversi Nabila
Temukan catatan dan refleksi yang tersaji dalam setiap tulisan, membawa Anda menyelami ide dan inspirasi di balik pikiran penulis.
Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo *)
6/22/20263 min read
Melempar batu sembunyi tangan. Itu cerita kuno. Zaman sekarang ada tren baru yang tidak kalah seru: posting foto seksi, sembunyi di balik fitur bernama Close Friend. Lalu, ketika rahasia itu bocor ke publik, semua orang mendadak tumbur.
Itulah yang kini menimpa selebgram Kalimantan Selatan, Nabila Zirus. Jagat media sosial kembali bergetar. Riuh. Bukan karena karya ilustrasi digitalnya yang biasanya bungas dan penuh warna pastel itu. Bukan pula karena tutorial pakai hijab praktisnya yang sering dipuji-puji netizen wanita.
Ini soal urusan lain. Soal halaman belakang rumah digitalnya yang mendadak terbuka lebar.
Anda sudah tahu: Instagram menyediakan fitur Close Friend. Gunanya mulia. Untuk membatasi siapa saja yang boleh melihat unggahan tertentu. Hanya orang dekat. Hanya lingkaran inti yang benar-benar bisa dipercaya. Begitu teorinya di atas kertas.
Tapi praktiknya? Di dunia digital, kepercayaan adalah barang mewah yang rapuh. Sekali sentuh, bisa hancur berantakan.
Gara-garanya sederhana tapi dampaknya mematikan. Perempuan bernama Vivi Djohari protes keras di media sosial. Dia heran, setengah tidak percaya, kok bisa-bisanya akun Instagram suaminya masuk dalam daftar lingkaran intim sang selebgram hijab asal Banua tersebut.
Lebih kaget lagi ketika Vivi melihat isi di dalamnya. Di "kamar khusus" itu, Nabila tampil balalain. Berbanding terbalik 180 derajat dari citra publiknya. Hijabnya dilepas. Pakaiannya jauh lebih terbuka. Wani banar.
Maka maladumlah kontroversi ini. Netizen langsung berubah peran menjadi hakim moral. Ada yang menghujat, ada yang mencibir, dan banyak pula yang sibuk mencari "video viral"—padahal yang beredar sejauh ini hanyalah tangkapan layar foto biasa. Begitulah watak dasar dunia maya kita: cepat terpancing, lambat menyaring.
Teknologi sering memberi kita ilusi keamanan. Kita merasa aman karena ada dinding pembatas digital, padahal dinding itu terbuat dari kaca transparan yang mudah pecah.
Saya merenungkan masalah ini dari sudut pandang yang agak berbeda. Saya tidak tertarik membahas moralitas pakaiannya. Mau pakai hijab atau tidak, itu urusan pribadi Nabila dengan Tuhannya. Yang jauh lebih menarik adalah psikologi digital manusia modern hari ini. Mengapa kita begitu mudah memercayakan rahasia besar pada sistem teknologi?
Close Friend itu sebuah ilusi. Dusta wara. Namanya saja yang romantis: Teman Dekat. Padahal, tidak ada yang benar-benar dekat jika sudah berurusan dengan jempol manusia dan tombol screenshot. Menaruh foto sensitif di sana sama saja dengan menanam bom waktu di halaman sendiri.
Mengapa? Karena kita tidak pernah bisa mengontrol siapa yang memegang ponsel di seberang sana. Hari ini mungkin si suami yang melihat sambil tersenyum. Besok, bisa jadi ponsel itu sedang dipinjam istrinya untuk memesan makanan online atau memeriksa mutasi rekening. Naas banar. Begitu mata sang istri melihat foto syur, selesailah seluruh skenario indah itu.
Bagi seorang influencer, citra adalah segalanya. Itu adalah aset bisnis yang bernilai mahal. Publik mengenal Nabila sebagai sosok yang anggun, kreatif, dan santun. Ketika tirai belakang panggung terbuka secara paksa, publik merasa dikhianati. Muncul label baru: standar ganda.
Padahal manusia itu kompleks. Kita semua punya sisi terang dan sisi gelap. Punya ruang publik untuk jualan, dan ruang privat untuk menjadi diri sendiri. Celakanya, batasan ruang privat itu kini diserahkan sepenuhnya kepada algoritma gratisan buatan Mark Zuckerberg.
Lalu, muncul pertanyaan krusial: mengapa harus memasukkan suami urang ke daftar itu? Di sinilah etika digital Nabila runtuh. Fitur tersebut tidak bekerja otomatis. Harus dipilih manual. Dicentang satu per satu. Artinya, ada kesadaran penuh saat memasukkan nama tersebut. Untuk apa? Hanya dia dan Tuhan yang tahu jawabannya.
Pelajaran dari kontroversi Nabila ini mahal sekali. Pertama, jangan pernah memercayakan reputasi Anda pada sistem yang bisa direkam atau difoto oleh kamera kedua. Kedua, jagalah lingkaran intim Anda. Jangan memasukkan sembarang orang ke "kamar pribadi" digital Anda, apalagi yang sudah jelas-jelas milik orang lain. Supan banar kalau sampai ketahuan.
Nabila kini harus membayar mahal kecerobohan digitalnya. Badai komentar miring mengaburkan semua karya kreatif yang ia bangun bertahun-tahun. Heman banar. Namun, begitulah hukum besi internet hari ini: rekam jejak tidak pernah mengenal kata maaf, ia hanya mengenal kata viral.
Jangan Anda tanya kepada saya: apakah foto hasil screeshoot itu asli atau rekayasa? Saya tidak tahu jawabannya karena akun Instagram saya tidak masuk dalam daftar Close Friend milik Nabila. (*)
*) Pemimpin Redaksi banjarbaruklik.com